Mengenal Struktur “Indeks Desa Membangun” (Bagian 2)

IDM dan Pengembangan Program

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (Kementerian Desa-PDTT) mengembangkan program unggulan sebagai pilar Desa Membangun Indonesia, yaitu Jaring Komunitas Wiradesa, Lumbung Ekonomi Desa, dan Lingkar Budaya Desa. Melalui tiga pilar ini diharapkan arah pengembangan program prioritas untuk menguatkan langkah bagi kemajuan dan kemandirian Desa akan terus meningkat.

Jaring Komunitas Wiradesa. Yakni memperkuat kualitas manusia dengan memperbanyak kesempatan dan pilihan dalam upaya penduduk Desa menegakkan hak dan martabatnya serta memajukan kesejahteraannya. Masalah saat ini adalah perampasan daya, yang mengakibatkan ketidakberdayaan dan marjinalisasi. Fakta tersebut berkembang menjadi aspek, sebab, sekaligus dampak kemiskinan yang menghalangi warga Desa hidup bermartabat dan sejahtera. Kemiskinan pada kehidupan Desa berkembang menjadi multidimensi dan cenderung melanggar hak asasi. Jaring Komunitas Desa akan mendorong ekspansi kapabilitas dengan memperkuat daya diberbagai aspek kehidupan warga Desa (aspek nilai dan moral, dan pengetahuan lokal Desa).

Lumbung Ekonomi Desa. Yaitu Potensi sumber daya di Desa yang bisa dikonversi dalam aktifitas ekonomi yang melibatkan modal dan organisasi ekonomi. Selain produksi, Lumbung Ekonomi Desa harus dikapitasi terhadap nilai tambah pendayagunaan teknologi tepat guna dan ramah lingkungan. Termasuk harus mampu menjawab masalah modal, jaringan dan informasi sehingga organisasi ekonomi yang dikembangkan menjadi kompatibel. Dalam pelaksanaan Undang-Undang Desa misalnya, BUMDes akan kuat jika dibangun dan dikelola orang-orang Desa. Syaratnya orang itu teruji secara nilai dan moral, memiliki modal sosial yang kuat, mampu mengembangkan kreasi dan daya untuk menjangkau modal, jaringan dan informasi.

Lingkar Budaya Desa. Pembangunan Desa tidak bergantung pada inisiasi orang perorang dan insentif, tapi lebih pada kultural. Gerakan pembangunannya dilakukan karena kolektivitas yang di dalamnya terdapat kebersamaan, persaudaraan dan kesadaran. Adanya Dana Desa haruslah menghasilkan kemajuan bukan kemunduran. Namun keberadaan Dana Desa harus dikritisi agar tidak menjadi bentuk ketergantungan baru. Sehingga pembangunan Desa yang dimaknai sebagai kerja budaya dengan norma dan moral sebagai pondasinya, maka perilaku ekonomi kehidupan Desa akan mampu menegakkan martabat dan kesejahteraannya.

Tiga pilar yang saling terkait ini membutuhkan komitmen berlipat dari kemampuan Kementerian Desa-PDTT dan K/L lain, guna mencapai target dan menghasilkan dampak yang bisa dipertahankan dalam memajuan dan mensejahterakan kehidupan Desa. Dalam pengembangan program prioritas, pilar-pilar tersebut dapat menjadi pijakan di mana Indeks Desa Membangun berguna untuk penetapan lokus. Berdasar IDM, 15.000 Desa menjadi lokus program pembangunan dan pemberdayaan masyarakat Desa. Yang terdiri dari 5.000 Desa Sangat Tertinggal, 5.000 Desa Tertinggal, 2.500 Desa Berkembang, dan 2.500 Desa Maju. Dari 15.000 Desa sebanyak 1.138 Desa terdapat di wilayah Perbatasan.

Klasifikasi dan Status Desa

IDM mengklasifikasi Desa dalam lima status: Desa Sangat Tertinggal, Desa Tertinggal, Desa Berkembang, Desa Maju, Desa Mandiri. Klasifikasi tersebut untuk menunjukkan keragaman karakter setiap Desa dalam rentang skor 0,27 – 0,92. Termasuk untuk menetapkan status perkembangan Desa dan sekaligus rekomendasi intervensi kebijakan yang diperlukan.

Dengan nilai rata-rata nasional Indeks Desa Membangun 0,566 klasifikasi status Desa ditetapkan dengan ambang batas sebagai berikut:

  1. Desa Sangat Tertinggal : < 0,491
  2. Desa Tertinggal : > 0,491 dan < 0,599
  3. Desa Berkembang : > 0,599 dan < 0,707
  4. Desa Maju : > 0,707 dan < 0,815
  5. Desa Mandiri : > 0,815

Status Desa juga memperhatikan faktor kerentanan seperti goncangan ekonomi, bencana alam, dan konflik sosial, sehingga status Desa tersebut akan jatuh turun dari sebelumnya. Jika kemampuan Desa dalam mengelola kerentanan, sumberdaya dan potensi sangat baik maka sebaiknya status Desa tersebut akan naik dari sebelumnya. Klasifikasi ini diarahkan untuk memperkuat upaya memfasilitasi dukungan pemajuan Desa menuju Desa Mandiri.

IDM merupakan komposit dari ketahanan sosial, ekonomi dan ekologi. IDM didasarkan pada tiga dimensi (dikembangkan dalam 22 Variabel dan 52 indikator). Penghitungan IDM pada 73.709 Desa berdasar data Podes 2014 dengan angka rata-rata 0,566 menghasilkan data sebagai berikut:

– Desa Sangat Tertinggal : 13.453 Desa (18,25 %)
– Desa Tertinggal : 33.592 Desa (45,57 %)
– Desa Berkembang : 22.882 Desa (31,04 %)
– Desa Maju : 3.608 Desa (4,89 %)
– Desa Mandiri : 174 Desa (0,24%)

Referensi: Buku Indeks Desa Membangun
Foto : Abdurrahman

One thought on “Mengenal Struktur “Indeks Desa Membangun” (Bagian 2)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s